Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri dari + 18.000 pulau yang membentang sepanjang 5000 kilometer dari timur ke barat dan sekitar 2.000 kilometer dari utara ke selatan. Karakter geografis dan geologis menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga yang paling rentan dari 13 negara di Asia yang  rawan terhadap bencana alam selama periode 1964-1986.  Laporan Bencana yang dikeluarkan oleh Departemen Sosial Indonesia merinci 991 bencana alam yang artinya 2,75 bencana alam terjadi per hari.


Lempengan tektonik yang membentang di kepulauan Indonesia sering mengalami kegiatan seismik yang menyebabkan Indonesia sebagai daerah yang sangat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Wilayah di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi rawan terhadap banjir, terutama selama angin musim hujan. Hal tersebut dikaitkan dengan risiko tanah longsor yang tinggi dan diperburuk oleh degradasi tanah di banyak wilayah itu. Sebaliknya, wilayah seperti Flores, Timor, dan Papua Barat lebih kering dan tertimpa kekeringan yang terus-menerus. Kekeringan menyebabkan kekurangan pangan dan terjadinya kelaparan.   
Eksploitasi lingkungan yang tidak memperhatikan kesetimbangan ekosistem seperti penebangan hutan yang serampangan, pembukaan lahan berskala besar serta pembuangan sampah kimiawi menyebabkan degradasi kualitas lingkungan yang berdampak pada terjadinya bencana banjir dan tanah longsor, pencemaran udara, pencemaran air sungai dan laut, dan memunculkan penyakit-penyakit dan kematian biota sungai dan laut.    Pembakaran hutan terjadi  sepanjang waktu di Sumatra dan Kalimantan, sangat mencemari udara yang memicu munculnya penyakit-penyakit pernafasan dan mengganggu sistem transportasi penerbangan.
Situasi politik dan krisis ekonomi tahun 1997 sampai saat ini masih memberikan pengaruh yang parah pada konflik internal. Sejak tahun 1997, ketegangan antara transmigran dan penduduk asli, serta antara kelompok-kelompok agama meletus menjadi kekerasan di beberapa provinsi. Lebih dari 10.000 orang tewas dan hampir 1,4 juta orang kehilangan tempat tinggal. Konflik yang meletus di provinsi-provinsi di Papua, Nangroe Aceh Darussalam, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Barat , dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang ini. 

Selain bencana tersebut di atas, meningkatnya kemiskinan dan konflik etnis, wabah penyakit, termasuk HIV/AIDS  serta merebaknya kasus-kasus bom dan terorisme menambah kerentanan Indonesia. Secara statistik, rata-rata orang yang terpengaruh bencana alam dan bencana akibat perbuatan manusia di Indonesia  cenderung meningkat selama lebih dari 20 tahun. Setiap tahun jumlah rata-rata orang yang terpengaruh bencana meningkat, dari 212.000 pada periode 1981-1990 menjadi 709.000 pada periode 1991-2000. 
Terjadinya peristiwa bencana, konflik dan wabah penyakit tersebut, sangat menuntut adanya perhatian dari Palang Merah Indonesia  untuk mengambil tindakan nyata tentang perlunya upaya-upaya kesiapsiagaan penanggulangan bencana/ upaya penurunan risiko bencana, pelayanan sosial dan kesehatan,  penyediaan darah yang aman oleh UTD serta pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan ketrampilan hidup bagi remaja dan masyarakat luas, khususnya kelompok masyarakat rentan. 
Dari analisa sementara ini, era globalisasi dan era reformasi yang berkembang dewasa ini, memicu menjamurnya organisasi sosial kemanusiaan lain. Munculnya LSM yang kegiatannya mirip kegiatan PMI, antara lain juga dipicu karena masih dirasakan kurang optimalnya kegiatan dan pelayanan PMI hingga saat ini. Upaya Kesehatan Transfusi Darah sebagai  salah satu kegiatan utama PMI juga masih sangat memerlukan penanganan yang lebih profesional serta harus diarahkan pada pemenuhan standar mutu pelayanan prima.   Kualitas dan kuantitas kegiatan dan pelayanan PMI secara umum belum terlihat konstan dan merata serta belum sepenuhnya relevan dengan visi dan misi PMI. 

Hal ini antara lain disebabkan terutama karena pada umumnya PMI belum memiliki kapasitas yang memadai di semua jenjang organisasi. Kepemimpinan organisasi PMI yang seharusnya berperan utama dalam mengarahkan dan mengembangkan organisasi, kenyataannya dirasakan tidak merata disetiap sehingga berdampak pula pada lemahnya managemen organisasi secara menyeluruh dan tidak berkembangnya modal dasar organisasi yang meliputi sumber daya. Keberadaan para relawan PMI dengan jumlah yang cukup besar, tidak dibarengi dengan kualitas dan profesionalismenya. 

Kita mengakui, bahwa banyak faktor yang membuat belum optimalnya pencapaian Visi dan Misi PMI, baik internal maupun eksternal.  Hasil-hasil analisis lingkungan yang dilakukan secara komprehensif oleh PMI selama Strategic Plan Workhsop telah memberikan suatu penguatan komitmen, bahwa kita harus bekerja lebih giat lagi untuk mencapai perubahan-perubahan yang lebih reformatif dan bermakna untuk peningkatan kapasitas dan sumber daya organisasi PMI di semua level serta meningkatkan kualitas pelayanan PMI yang efektif, tepat waktu dan berkelanjutan.  Atas dasar hasil analisis itulah, PMI menyusun Garis-garis Kebijakan dan Rencana Strategi PMI untuk 5 tahun mendatang (2005 – 2009).

Analisis  Lingkungan

Hasil analisis yang dilakukan secara mendalam dan komprehensif selama Strategic Plans Workshop  2005-2009, telah menghasilkan  Analisis  situasi lingkungan (SWOT Analysis) yang mencakup Analisis Lingkungan Eksternal  (Opportunities dan Threats) dan Analisis Lingkungan Internal (Strength dan Weaknesses) ;

This entry was posted in MATERI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s